Blog

Kota Mojokerto, 7 April 2026 – Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap 24 Maret menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya Tuberkulosis (TB). Melalui kegiatan edukasi kesehatan yang menyasar pasien dan pengunjung, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto menunjukkan komitmennya dalam mendukung tercapainya Indonesia bebas TB tahun 2050. 


Kegiatan edukasi TB ini dipandu oleh perawat Poli Paru, Ibu Erlina Yustanti, S.Kep., Ns. Dalam pembukaannya, beliau menekankan bahwa tuberkulosis di Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang kasus tertinggi di dunia, yang diperparah dengan rendahnya kepatuhan pengobatan sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO).


Kegiatan sosialisasi Tuberkulosis (TB) mengangkat tema utama TOSS TB (Temukan TB, Obati Sampai Sembuh) yang menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat sekaligus meluruskan stigma yang keliru terkait TB. Dalam kesempatan tersebut, dr. Samsuri, Sp.P menyampaikan berbagai informasi penting secara komprehensif, mulai dari gejala, cara penularan, kelompok berisiko, hingga langkah pencegahan dan deteksi dini. Beliau juga menjelaskan proses diagnosis, pengobatan TB, serta pentingnya menerapkan gaya hidup sehat bagi pasien TB.


Lebih lanjut, disampaikan pula risiko TB Resisten Obat (RO) akibat ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat anti-TB sesuai aturan. Diskusi berlangsung interaktif bersama pasien dan pengunjung poli paru, mencakup penggunaan masker bagi pasien TB, penerapan etika batuk, serta kepatuhan konsumsi obat sesuai dosis dan berat badan pasien. 


Dalam penutupnya, dr. Samsuri, Sp.P menekankan pentingnya peran keluarga, kader kesehatan, serta Pengawas Menelan Obat (PMO) dalam mendukung keberhasilan pengobatan. Dukungan tersebut diharapkan mampu memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas, sehingga dapat mencegah penularan dan meningkatkan angka kesembuhan TB di masyarakat.


Tidak hanya dari aspek medis, pasien, dan pengunjung juga mendapatkan edukasi tambahan dari ahli gizi mengenai peran penting nutrisi dalam penanganan gangguan pernapasan dan Tuberkulosis (TB). Edukasi tersebut mencakup prinsip pola makan seperti pembatasan konsumsi gula, pemenuhan protein hewani dan nabati, serta asupan mikronutrien penting, antara lain vitamin A, B6, C, serta zat besi & zinc. 


Ahli gizi RSUD, Ibu Ari Wijayanti, S.Gz., juga memberikan strategi untuk mengatasi penurunan nafsu makan, seperti konsumsi makanan dalam porsi kecil namun sering, memilih camilan sehat, menghindari minum sebelum makan, serta menyesuaikan tekstur makanan yang nyaman dikonsumsi. Selain itu, disampaikan pula pantangan makan, makanan dan minuman pemicu batuk, serta contoh menu harian yang dapat diterapkan di rumah. Di akhir sesi, beliau menegaskan bahwa obat berperan membunuh bakteri TB, sementara nutrisi menjadi pendukung penting dalam proses pemulihan kondisi tubuh pasien.


Sosialisasi diakhiri dengan sesi diskusi interaktif bersama pasien, pendamping, dan pengunjung Poli Paru mengenai penerapan etika batuk sebagai upaya pencegahan penularan TB. Pada kesempatan tersebut, ibu Erlina Yustanti, S.Kep., Ns kembali mengingatkan pentingnya deteksi dini serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.


Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan TB, sekaligus mendukung terwujudnya keluarga peduli TB guna mencapai target Indonesia bebas Tuberkulosis tahun 2050.