Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Ketidakpastian Ekonomi: RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Gelar Podcast Spesial
Humas Wahidin 2026-10-16MOJOKERTO — Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Hari Kesehatan Nasional menjadi momentum penting untuk kembali menyoroti isu kesejahteraan psikologis masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi dan ketidakpastian global yang kian dinamis, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto menghadirkan diskusi khusus bertajuk "Menjaga Kesehatan Mental di Era In This Economy", Rabu (16/10).
Acara yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RSUD Kota Mojokerto ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya: dr. Ira Rositawati, Sp.KJ (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa) dan Hasri Ardila, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis), serta dipandu oleh host Nila Triayu.
Diskusi ini membahas secara mendalam bagaimana tekanan finansial dan ketidakpastian hidup dapat memicu stres berkepanjangan, serta langkah konkret menghadapinya melalui pendekatan kesadaran penuh (mindfulness).
Memahami Fenomena "In This Economy" dan Batasan Kecemasan
Istilah "in this economy" yang populer di media sosial bukan sekadar tren atau sindiran agar masyarakat tidak boros. Lebih jauh, frasa ini mencerminkan keresahan nyata akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga ketidakpastian masa depan yang memicu beban psikologis tersendiri bagi masyarakat.
dr. Ira Rositawati, Sp.KJ menjelaskan bahwa cemas pada dasarnya adalah reaksi emosional yang normal untuk mewaspadai ancaman. Namun, masyarakat perlu mengenali batasannya:
Cemas Normal: Bersifat sementara, intensitasnya ringan hingga sedang, dan individu masih dapat fokus menjalankan aktivitas serta tugas sehari-hari.
Mengarah ke Gangguan: Berlangsung terus-menerus selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, mendominasi keseharian, membuat individu kesulitan fokus, menarik diri, hingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan.
Solusi Praktis: Terapkan Metode Mindfulness (S-O-P)
Sebagai langkah preventif agar kecemasan tidak berlanjut menjadi gangguan mental yang lebih serius, Psikolog Hasri Ardila membagikan teknik mindfulness (kesadaran dan kehadiran secara utuh) melalui metode S-O-P:
Stop (Berhenti Sejenak): Luangkan waktu minimal 5 menit untuk diri sendiri, keluar sejenak dari rutinitas sibuk, dan atur pernapasan panjang untuk relaksasi.
Observation (Metode 5-4-3-2-1): Mengamati lingkungan sekitar untuk mengembalikan kesadaran nyata—mengenali 5 hal yang bisa dilihat, 4 hal yang bisa disentuh/dirasakan teksturnya, 3 hal yang bisa didengar, 2 hal yang bisa dicium, dan 1 hal yang bisa dirasakan di lidah.
Proses & Target Nyata: Mengarahkan kesadaran pada tindakan konstruktif, meliputi:
Kesadaran Finansial: Mengontrol diri dari impulsivitas belanja (misalnya menerapkan aturan jeda 48 jam sebelum check-out barang di keranjang belanja online).
Kesadaran Karier & Kompetensi: Mengoptimalkan potensi diri secara bijak di tengah situasi sulit.
Kesejahteraan Psikologis: Mencari kebahagiaan sederhana yang seimbang (seperti jogging atau berjalan-jalan santai, tanpa harus memaksakan liburan mahal).
Kisah Inspiratif Penyintas dan Pentingnya Dukungan Profesional
Sesi podcast turut menghadirkan kisah nyata dari seorang narasumber anonim (Mbak Ani, 31 tahun) yang pernah mengalami kecemasan berat akibat tekanan akademik dan ekonomi di masa lalu. Setelah sempat mencoba berbagai cara mandiri hingga pengobatan alternatif yang tak membuahkan hasil, ia akhirnya berani mencari bantuan profesional ke psikiater.
Dengan pengobatan rutin dan konseling selama 1,5 tahun—yang juga dapat diakses secara mudah melalui fasilitas BPJS Kesehatan di RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo—kondisinya berangsur pulih hingga dapat kembali membangun kehidupan keluarga yang harmonis.
"Meminta bantuan profesional bukanlah sebuah kelemahan atau aib, melainkan bentuk kekuatan dan kepedulian terhadap diri sendiri. Yang paling dibutuhkan saat seseorang jatuh adalah didengarkan tanpa dihakimi," pesan Mbak Ani dalam sesi sharing tersebut.
Rumah Sebagai Bentuk Pondasi Utama
Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya peran keluarga. Rumah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman (safe space). Membangun rutinitas komunikasi yang hangat, seperti makan malam bersama atau meluangkan waktu berbincang santai (pillow talk) bagi pasangan, menjadi kunci utama agar perubahan kondisi emosional anggota keluarga dapat terdeteksi sejak dini.
Bagi masyarakat yang merasakan gejala kecemasan berlebih dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto senantiasa terbuka menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa yang profesional, ramah, dan dapat diakses dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.